LDK AlHijrah UTU Gelar Diskusi Publik Tentang Ancaman Neoliberalisme & Neoimperalisme
  • UTU News
  • 22. 09. 2019
  • 0
  • 328

MEULABOH, UTU - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al - Hijrah Universitas Teuku Umar mengadakan Diskusi Publik dengan tema “Benarkah Indonesia Terancam Neo liberalisme dan Neo Imperalisme” di Aula Utama Kampus UTU, Jl. Alue Peunyareng, Meureubo, Aceh Barat, Sabtu(21/9).

"Ini adalah kegiatan yang bagus dan sangat didukung oleh kampus. Ini merupakan cara LDK juga dalam rangka merangkul adik-adik dalam memberikan pendidikan mengenai tema yang kita bahas yaitu ancaman Neo liberalisme dan Neo Imperalisme. Kedepannya kegiatan positif seperti ini perlu digalakkan untuk dilaksanakan sesuai dengan visi misi lembaga yaitu kegiatan yang berhubungam dengan dakwah kampus.” Tutur Hasanuddin Husein, S.P., M.Sc selaku Dosen pembina LDK Al-Hijrah saat membuka acara.

LDK Al-Hijrah mendatangkan pemateri sebanyak tiga orang, pemateri merupakan orang-orang yang berkompeten di dalam organisasi dan dianggap cakap dalam membahas tema yang dipersiapkan panitia. Mereka itu adalah Yunus Bidin SH., M.H (Ketua PDM Aceh Barat), Heri Afriansyah, S.H (Ketua HMI cabang Meulaboh) dan Hengki A. Ginting, S.Si.T (BKLDK Aceh Barat).

Diskusi publik yang dipandu oleh Ibnu Maja ini memberikan kesempatan pertama kepada Yunus Bidin, M.H. Dosen FISIP UTU itu mengungkapkan fakta-fakta neoliberalisme dan neoimperialisme tidak saja mengancam akan tetapi sudah terjadi di Indonesia saat ini.

"Prinsip neoliberalisme ini sangat kentara ketika sedikit demi sedikit negara melepaskan tugas dan tanggung jawabnya atas rakyat. Inilah prinsip dasar neoliberalisme. Pengurangan peran negara dilakukan dengan privatisasi sektor publik, pencabutan subsidi, penghilangan hak - hak istimewa BUMN melaui berbagai ketentuan dan perundangan yang menyetarakan BUMN dengan usaha swasta." Jelas Aktivis Pemuda Muhammadiyah ini.

Tak heran jika ada yang mengatakan bahwa neoliberalisme sesungguhnya merupakan upaya pelumpuhan negara, selangkah menuju corporate state (korporatokrasi). Ujungnya negara di kendalikan oleh persekutuan jahat antara politikus dan pengusaha. Sehingga keputusan - keputusan politik tidak di buat untuk kepentingan rakyat, tapi untuk kepentingan korporat baik domestik maupun asing. Dan tampaknya itu telah terjadi di negeri ini. Lanjut Yunus Bidin penuh semangat.

Dua pemateri lainnya menyoroti peran mahasiswa dan akar permasalahan Neo imperalisme dan neoliberalisme. Heri Afriansyah memberikan sikap-sikap yg seharusnya dilakukan oleh mahasiswa dalam mengantisipasi ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme yaitu dengan bertindak tidak hanya berdiam diri dikampus. Selanjutnya Hengki Ginting menjelaskan secara kongkrit tentang akar permasalahan terjadinya neoimperialisme dan neoliberalisme yaitu hilangnya peran negara dalam mengantisipasinya sehingga diperlukan sistem yang baik yaitu sistem Islam yang bersumber pada sumber-sumber hukum Islam.

Ketua Umum UKM LDK Alhijrah, Muhammad Satrijal didampingi ketua panitia pelaksana Muhammad Fadil, kepada media UTU.News mengabarkan rasa bahagia atas terselenggaranya kegiatan diskusi publik ini.

"Kami merasakan kebahagiaan tersendiri, ketika seluruh peserta seminar menyambut hangat ilmu yang dibagikan oleh para pemateri, karena para peserta begitu antusias mengikuti kegiatan dan muncul berbagai pertanyaan yang dijawab tuntas oleh para pemateri." Jelas Satrijal, panggilan akrabnya. (Aduwina).

Komentar :

Lainnya :