HIMAGRO Pertanian UTU Gelar Seminar Nasional Agro In Art 2019
  • UTU News
  • 22. 10. 2019
  • 0
  • 421

MEULABOH, UTU – Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (Himagro) Fakultas Pertanian - Universitas Teuku Umar (FP-UTU) mengadakan seminar nasional agro in art. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Utama UTU, 21 Oktober 2019 dibuka Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UTU, Dr. Mursyidin, MA.

Peserta seminar nasional agro in art adalah mahasiswa dan dosen Universitas Teuku Umar, siswa sekolah SMKN-Meureubo, dan dari Dinas Perkebunan Kabupatan Aceh Barat. Sedangkan untuk finalis lomba sebenarnya diikuti 11 Universitas, namun yang hadir selain mahasiswa UTU, hadir mahasiswa dari Universitas Sriwijaya, Universitas Bangka Belitung, Universitas Unimal, dan Universitas Islam Negeri Suska Riau.

Ketua Himagro Fakultas Pertanian UTU, Railis, didampingi Ketua Panitia Seminar, M. Halimi kepada UTU.News mengatakan, Seminar Nasional Agro In Art 2019 ini mengangkat tema “Optimalisasi Produktivitas Pertanian Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia”.

Kegiatan dilakukan dalam bentuk diskusi panel yang dipandu oleh Alumni FP UTU, Maulidil Fajri, S.P., M.Si. Panitia menghadirkan pemateri dalam kegiatan ini adalah Prof Dr. Ir. Lisdar A. Manaf (guru Besar IPB), Handi Arief, ST (Kepala Sub Direktorat Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian, Kementan RI) dan Dr. Ir. Alfizar, DAA (Wakil Rektor I UTU).

Railis menjelaskan, selain kegiatan Seminar Nasional, mereka juga mengadakan kegiatan perlombaan yaitu lomba desain poster, fotografi, dan essay yang diikuti oleh mahasiswa dari 13 Perguruan Tinggi di Indonesia.

Prof. Lisdar dalam pemaparannya yang berjudul "Perjalanan kreativitas umat manusia dalam mengatasi krisis air, pangan, energi dan perubahan iklim" ini banyak mengurai tentang hasil-hasil risetnya yang berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan. Beliau lebih menitikberatkan kepada kontribusi manusia dalam mengelola sumberdaya alam dan pemanfaatannya untuk kelangsungan hidup manusia. "Anak-anakku, jagalah alam ini dengan cara tidak ikut berkontribusi menyuplai sampah plastik, yang sudah menjadi permasalahan ditingkat dunia ini." Pesan Prof Lisdar di hadapan peserta SemNas.

Lebih lanjut, Beliau mengajak para mahasiswa untuk pro aktif melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan seputar pertanian, khususnya bagi mahasiswa Agroteknologi. Bagaimana memanfaatkan lahan yang begitu luas di Aceh, mengkaji beragam teknologi yang bisa digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian masyarakat, dan menemukan temuan-temuan baru yang bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Paparan menarik lainnya disampaikan oleh Handi Arif, ST dari Kementerian Pertanian RI. Paparan yang berjudul "Dukungan Kebijakan Alsintan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045" ini banyak mengupas tentang apa saja program pemerintah Indonesia dalam upaya mendukung peningkatan hasil pertanian masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk dukungan peralatan maupun peningkatan kapasitas penyuluh dan petaninya.

Menurutnya tingkat penggunaan alsin masih rendah menyebabkan biaya produksi pertanian menjadi mahal. Selain itu pada tahun 2015 level mekanisasi Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,5 hp/ha dibandingkan Amerika Serikat (17 hp/ha), Jepang (16 hp/ha), Malaysia (2,4 hp/ha), Thailand (2,5 hp/ha). Bahkan kita dikalahkan Negara yang baru merdeka setelah kita, Vietnam dengan nilai 1,5 hp/ha. Baru di tahun 2018, ada kenaikan walau tidak signifikan yaitu 1,28 hp/ha. Maka untuk itu, diperlukan pengembangan alsintan dalam produksi pangan terkait target peningkatan produksi padi, pengembangan sosial ekonomi dan mengatasi keterbatasan lapangan kerja.

Dikesempatan itu, Handi Arif mendorong Mahasiswa peserta Seminar Nasional khususnya mahasiswa UTU untuk mengambil peluang usaha pengembangan mekanisasi pertanian, dimana menurutnya kondisi tenaga kerja dibidang pertanian semakin sulit, perlu dukungan mekanisasi pertanian dari hulu hingga hilir. Selain itu, Alsintan memiliki keunggulan secara teknis maupun ekonomis, sehingga sangat dibutuhkan petani. Meningkatnya kemampuan industri dalam negeri dalam memproduksi Alsintan. Peluang terbuka lebar karena dukungan pemerintah cukup kuat bagi pengembangan mekanisasi. Selain itu tumbuh kembangnya Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).

Pemateri ketiga, Dr. Alfizar DAA memaparkan perkembangan UTU Farm dan kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan tersebut. Atas banyaknya kendala seperti kondisi tanah, hama yang menyerang pisang dan lain-lain itu, Warek I ini mengharapkan adanya mahasiswanya UTU khususnya mahasiswa Agroteknologi untuk melakukan penelitian di kebun koleksi pisang dunia tersebut.

Hadir dalam acara seminar ini antara lain Rektor Senior UTU, Drs. Alfian Ibrahim MS, Dekan Fakultas Pertanian UTU, Ir. Yuliatul Muslimah, MP, Ketua Jurusan Agroteknologi UTU, Wira Hadiyanto, SP., MP dan para undangan lainnya. (Aduwina).

Komentar :

Lainnya :